Otomotif

Teras Project 192 Tawarkan Modifikasi yang tidak Langgar Aturan


initasik.com, otomotif | Tidak sedikit orang mengutak-atik kendaraannya secara berlebihan. Sering mengabaikan aturan standar kendaraan. Yang penting puas. Alhasil jadi sasaran empuk polisi. Kena tilang.

“Kalau kami dalam memodifikasi itu tidak melanggar aturan. Tetap sesuai dengan apa yang ada di STNK. Soalnya, kebanyakan mothai terlihat mencolok, menggunakan tiga warna atau lebih, itu bukan murni gaya Thailand,” kata Egi Saeful Zein, penjaga Teras Project 192, Jl. Tamansari, Perum Griya Mahkota Jaya Blok A 13, Kelurahan Sambong Jaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

Ia menjelaskan, teras projeck 192 merupakan penjualan jasa dalam bidang modifikasi, jual aksesori mothai. Namun, yang membedakan dengan toko dan bengkel lain, berkaitan dengan gaya modifikasi dan onderdil yang ditawarkan kepada konsumen.

Berusaha menjaga keaslian kendaraan dalam memodifikasi. Tidak menggunakan mothai otre style, yang cenderung warna-warni, terlihat lebih ramai, menyolok, seolah bukan untuk digunakan sehari-hari. Tapi lebih menawarkan pure Thailook style, yaitu part yang diaplikasikan tidak mencolok, memiliki ciri khas yang simple and clean warna dan striping menggunakan bawaan pabrik, tidak striping custom atau warna-warni.

“Kami ada sudah dari dulu, namun sudah beberapa kali ganti nama. Sebelumnya ramai otre style, sekarang kami lagi berusaha memboomingkan pure mothai style. Mothai itu kendaraan daily use alias kendaraan sehari hari,” terang warga Babakan Pala, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya itu.

Seiring perkembangan, teras project 192, melebarkan sayapnya, yang semula hanya memodifikasi kendaraan sekarang membuat event organizer juga. Bukan tanpa tujuan, ia dan rekan-rekannya berupaya untuk menyosialiasikan mothai yang tak melanggar hukum.

Beberapa tahun ke belakang, kebanyakan pecinta mothai tidak memedulikan aturan, lebih mementingkan kendaraannya agar terlihat ciamik. Tanpa memperhitungkan kerugian ketika dijalanan, misalnya kena tilang karena tidak mengikuti peraturan lalu lintas.

“Kami tidak sampai mengubah warna. Soalnya di Thailand sendiri, sangat minimalis, simpel, tidak banyak warna dan lain-lain. Terlebih ini kan digunakan untuk kendaraan sehari-hari,” ucapnya.

Panji Prasetya, mekanik Teras Project 192, menceritakan, pertama kali memulai dari teras rumah teman yang disulap menjadi bengkel modifikasian. Banyak anggota club Matic 17 yang kebingungan untuk memasang onderdil dan memodifikasi kendaraan ala thailand.

Itu dilirik sebagai kesempatan untuk membuka usaha yang berkaitan dengan mothai.

“Hanya iseng-iseng saja awalnya di teras rumah, semakin ke sini makin banyak yang memodifikasi. Untuk memodifikasi kendaraan agar bisa bergaya Thailand, kurang lebih harus mengeluarkan uang dua jutaaan, tapi kelasnya biasa saja,” sebutnya.

Menurutnya, yang dibutuhkan mekanik itu keuletan dan ketelatenan dalam memadukan. Sering mencari informasi, terutama yang lagi trend di Thailand. “Untuk menarik pelanggan, harga kami berbeda dengan toko yang lain, beli di sini sekaligus dipasang,” imbuhnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?