Inspirasi

Terkenal ke Mancanegara, Hidup Ki Edong Tetap Bersahaja

Kota Tasik | Di kalangan pecinta batu akik, nama Edong sudah tak asing lagi. Bukan saja di Tanah Air, namanya sudah melanglang buana. Mendunia. Batu pancawarna Edong. Saat digelar Konferensi Asia Afrika ke-60, April 2015, di Bandung, batu akik jenis itu menjadi cenderamata bagi 109 ibu kepala negara.

Usia Ki Edong sudah 85 tahun. Namun, meski dengan suara terbata-bata, ia masih semangat berbagi cerita soal batu pancawarna yang digalinya di gunung Kencana, Kampung Cikarawang, Desa Sukarame, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut.

 

Mengenakan setelan serba hitam plus iket, Ki Edong menghadiri “Tasik Gemstone Expo III-2015” yang digelar di halaman bekas kantor Setda Kabupaten Tasikmalaya, Jl. Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, beberapa waktu lalu. Ia datang ke acara itu naik mobil Toyota Rush warna putih dengan pengawalan polisi.

 

Tunggu dulu. Mobil itu bukan milik Ki Edong. Itu milik panitia. Sampai saat ini, hidup Ki Edong masih sederhana. Tak banyak berubah. Bersahaja. “Bujeng-bujeng gaduh mobil,” ujar istri kedua Ki Edong, Ma Iyah, di sela acara.

 

Menurutnya, sehari-hari Ki Edong biasa bertani. Pekerjaan itu tetap dilakoninya meski saat booming batu, harga jual akik temuannya gila-gilaan. Satu lionton pancawarna Edong bisa menembus Rp 1 miliar. “Nu benghar mah bandar,” timpal cucu Ki Edong sambil tertawa.

 

Ki Edong menceritakan, batu akik pancawarna temuannya semula tak banyak dilirik orang. Waktu itu, 1990-an, para pemburu batu lebih membidik yang berwarna hijau. Saat dapat pancawarna, ia sempat kecewa. Namun, hasil galiannya itu disimpan. Sampai pada satu waktu, bongkahan pancawarna seberat 1 kuintal dibeli orang seharga Rp 4 juta. Tak lama setelah itu, batu temuan Edong mulai dicari orang. Seorang kolektor dari Jakarta meminta izin kepadanya untuk memberi nama akik itu Edong. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar