Seni Budaya

Terpilih Sebagai Peserta Terbaik pra-LAF, Irfan Fathurrohman Wakili Tasik ke Kalimantan

initasik.com, seni budaya | Irfan Fathurrohman terpilih sebagai peserta terbaik dalam Festival Monolog pra-Lanjong Art Festival (LAF), di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, beberapa waktu lalu. Ia akan mewakili Kota Tasikmalaya untuk tampil di acara puncak LAF, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

“Bermain monolog ini hal yang baru bagi saya. Dasar saya itu dari kesenian Karinding. Saya berasa sedang mimpi, bagaimana sih rasanya naik pesawat atau naik kapal. Benar kata Bondan Prakoso, bahwa hidup itu berawal dari mimpi, dan saya sekarang bisa merasakannya,” tutur Irfan, saat ditemui di rumahnya, di Aboh, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Dia menceritakan, proses untuk meraih itu semua memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Tidak instan. Perlu kesungguhan dan kerja keras ketika berlatih. Harus memberikan kepercayaan penuh kepada pelatih atau sutradara. Tidak memandang remeh hal apapun dalam sebuah latihan. Ia sangat bersyukur disutradarai oleh orang yang keras dan tegas dalam latihan.

“Yang melatih saya itu kang Orock sangat tegas. Benar-benar mental itu ditempa di sana. Banyak manfaatnya walaupun terbilang keras ketika latihan. Saya sangat bahagia. Ini juga berkat doa kedua orangtua dan saya tidak melupakan ini keajaiban. Soalnya saya tidak punya dasar dalam bermain monolog,” terang pria kelahiran tahun 1996 itu.

Ia merasakan, disiplin latihan menjadi penentu penampilan di atas panggung. Kemampuan mengolah vokal, kelenturan tubuh, dan sebagainya sudah terlihat, sehingga dalam menjalankan latihan itu harus displin dan serius.

Selain itu, harus mampu memahami dan mengerti naskah agar mampu menghadirkan pesan yang terkadung didalamnya. “Jadi, yang lama itu pas pembedahan naskahnya. Pembedahan naskahnya itu sambil berjalan-jalan, melihat berbagai kegiatan. Tidak ketika pas waktu latihan. Pas latihan mah olah tubuh, olah fisik dan olah vokal. Setiap hari latihan,” ujarnya.

Baca juga: Kritikan Sosial dalam Festival Monolog pra- Lanjong Art Festival

Untuk mengatasi demam panggung, sebelum tampil melakukan pemanasan dan membayangkan semua yang ada tidak terlihat. “Harus percaya diri. Sebelum pentas ketika dipanggil, jogging di tempat, pemanasan dulu. Biar pas dipanggung tidak gugup. Terus bayangkan saja tidak ada siapa-siapa, fokus menikmati naskah. Juga harus mampu melakukan improvisasi ketika ada keselahan teknis di panggung. Harus berpikir cepat, sehingga tidak menggangu ke adegan yang lain,” paparnya. [Syaepul]