Peristiwa

“The Panasdalam” Awalnya Ateis; Bincang-bincang Penuh Canda dengan Pidi Baiq

initasik.com, peristiwa | Pidi Baiq, penulis novel dan musikus asal Bandung, tampil penuh canda dalam talk show Interaktif untuk Kreatif yang digagas OSIS SMA Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya, di Hotel Horison, Ahad, 24 September 2017.

Dalam perkenalannya, ia mengatakan bahwa dirinya merupakan imigran dari surga yang diselendupkan oleh ayahnya di kamar pengantin dengan dibantu ibunya yang bertugas menyimpan hasil selundupan.

“Tujuan saya ke bumi ini untuk Jumatan. Senin sampai Kamis persiapan Jumatan, Sabtu dan Minggu untuk evaluasi. Di sela-sela menunggu Jumatan itu, saya menulis. Tips menulis dari saya adalah hidupkan laptop, buka MS word, lalu menulis. Orang-orang beda cara dalam menulis. Jangan tanya ke orang kreatif bagaimana membuat jembatan, tapi tanya bagaimana caranya menyeberangi sungai,” tuturnya berfilosofi.

Ia melanjutkan, “Saya kuliah di ITB, tapi ijazahnya belum diambil. Sengaja, buat ITB sebagai kenang-kenangan. Saya alumnus ITB yang selalu bilang hidup Unpad, karena istri saya lulusan Unpad. Perguruan tinggi lain pelit belum memberi istri buat saya. Padahal itu saya tunggu. Kalau saya nikah lagi itu bukan nafsu, tapi ingin tahu dengan perempuan lain anak saya seperti apa,” kelakarnya disambut tawa peserta.

Penulis banyak novel, seperti Drunken Monster dan Dilan, itu bercerita, saat kuliah di ITB, ia mendirikan negara sendiri bernama The Panasdalam sebagai bentuk protesnya terhadap rezim Soeharto.

“Ukuran negaranya 8×10 meter. Penduduknya 18 orang. Saya presidennya. Saat Soeharto lengser, kami mengadakan muktamar di daerah Dago untuk menentukan apakah tetap jadi negara sendiri atau gabung lagi dengan NKRI. Akhirnya gabung lagi. Bubarlah negara The Panasdalam itu, dan menjadi Daerah Istimewa. Sesudah itu jadi grup band. Satu-satunya negara yang menjadi grup band adalah The Panasdalam,” selorohnya.

Lantas ia membuat album lagu. Sukses. Banyak stasiun televisi yang memintanya tampil di layar kaca, tapi itu ditolak. Sampai sekarang ia menolak tampil di televisi. Saat ditanya kenapa tidak mau masuk televisi, ia menjawab inginnya masuk surga.

“Sebenarnya The Panasdalam itu akronim. The-nya ateis, pa-nya paganisme, nas-nya Nasrani, da-nya Hindu Buddha, lam-nya Islam. Jadi, saya ini imam besarnya semua agama,” celoteh Pidi Baiq.

Baca: Undang Pidi Baiq, Upaya OSIS SMA Al-Muttaqin Sebarkan Budaya Literasi

Kendati acara tersebut dipenuhi canda tawa, di akhir acara ia mengingatkan para peserta bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Sudah selayaknya saling menasehati, selalu bersabar dan tenang menjalani hidup. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?