net
Olahraga

Tidak Ada Dukungan Pemerintah, Atlet O2SN Asal Kota Tasik Gagal Tanding


initasik.com, olahraga | Sejumlah atlet Kota Tasikmalaya dari berbagai cabang olahraga gagal bertanding dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2017 tingkat provinsi, karena tidak jadi berangkat. Para atlet yang sudah menjalani latihan dan berbagai tahapan mesti menelan kekecewaan.

Irvania, orangtua Shazia Nikita, atlet bulutangkis yang sekolah di SMAN 1 Tasikmalaya, mengatakan, kegagalan tanding itu bukan lantaran anaknya dan atlet lainnya tidak siap, tapi karena Pemerintah Kota Tasikmalaya lepas tanggung jawab.

“Katanya saat ini SMA sudah bukan tanggung jawab pemerintah kota atau kabupaten, tapi kenapa daerah lain bisa berangkat? Kenapa tidak diantisipasi seperti kota atau kabupaten lain? Cari solusinya. Biaya rapat, perjalanan dinas atau studi banding para inohong mungkin lebih besar,” tuturnya, Rabu, 12 Juli 2017.

Menurutnya, beberapa atlet yang ikut O2SN 2017 tingkat Jawa Barat berangkat dengan dana sendiri. Para guru urunan. Untuk menginapnya, sebagian menumpang di tempat indekos temannya.

“Berangkat sendiri juga sebenarnya tidak apa-apa. Tapi pemberitahuannya jangan mepet. Ini sore baru ada keputusannya, padahal besoknya sudah mulai O2SN. Akhirnya gagal. Saya kecewa. Anak latihan fisik tiap pagi-sore, dan latihan ekstra bersama kawannya. Waktu tanya soal keberangkatan O2SN malah dipingpong,” tuturnya menyesalkan.

Ia berharap, tahun depan hal seperti itu tidak terjadi lagi. Untuk itu, ia dan rekan-rekannya akan membangun gerakan, semacam pengumpulan dana. “Jangan sampai terulang untuk tahun-tahun depan,” tandasnya.

Terpisah, Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, mengaku belum mengetahui persoalan tersebut. “Nanti kita cek, termasuk soal kewenangan kelola SMA. Kalau memang itu kewenangan provinsi, kita tidak bisa apa-apa. Yang jelas kita mendukung semua atle dari Kota Tasikmalaya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Achdiat Siswandi, berdalih, pihaknya tidak bisa memberikan bantuan atau memfasilitasi keberangkatan para atlet ikut O2SN, karena saat ini sudah ada kewenangan yang berubah.

“Selama ini memang selalu kita fasilitasi, tapi setelah kewenangan mengelola SMA/SMK diambil alih provinsi, kita tidak bisa apa-apa lagi. Kalau SD dan SMP masih kita fasilitasi. Seyogyanya sekolah atau para kepala sekolah inisiatif dan proaktif mencari dana untuk memberangkatkan siswanya. Kan ada MKKS. Uang mereka banyak. Kalau berharap dari pemerintah, sulit,” bebernya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?