Peristiwa

Tidak Ada Jembatan, Kalau Hujan Besar, Siswa MI Miftahunnajah Terpaksa Bolos Sekolah

initasik.com, peristiwa | Di tengah segala kekurangan, mereka masih semangat menuntut ilmu. Berangkat sekolah dengan jalan kaki sejauh 1 km. Harus menyeberangi sungai. Membahayakan keselamatan jiwa.

Abdi opatan anu sakola. Pami ageung hujan mah, abdi tara sakola. Sieun,” kata Abdul Wahab, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahunnajah, Desa Sukarasa, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Ia melintasi sungai Cikalukur bersama temannya, yaitu Nandang (Kelas 5),  Agus Siswanto (Kelas 4), dan Nurlaela Sari (Kelas 4). Sungai Cikalukur merupakan perbatasan antara Kampung Golacir, Desa Margalaksana dengan Kampung Bengkok, Desa Sukarasa.

“Dulu ada jembatan. Namun, sekitar tahun 2009 putus diterjang air bah. Bukan hanya itu, akses jalan ke sini pun baru ditembok akhir 2016. Anak-anak tersebut, kalau ada hujan jarang masuk sekolah,” terang Muhammad Yamin, salah seorang guru, saat ditemui di sekolah.

Ia membenarkan, pendidikan di Indonesia mengalami berbagai transformasi mulai dari hal ketersediaan infrastuktur, kurikulum, hingga kecukupan dan kualitas tenaga pengajarnya. Namun, itu terjadi hanya di sebagian daerah. Tidak untuk di pedalaman. “Buktinya anak-anak ini. Tapi, kan, tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk mengejar mimpinya,” terangnya.

Sekolah tersebut sudah berdiri sejak 1969, dan menjadi sekolah pilihan bagi mereka yang tidak mampu. Keberadaannya berpindah-pindah, agar mudah dijangkau anak-anak yang ada di pegunungan. Awalnya di tengah perkampungan, tepatnya di Kampung Cipicung.

Alasannya pindah, agar anak di pegunungan bisa belajar di sekolahan yang banyak mengajarkan Islamnya. “Di sini ada 46 siswa, hampir semuanya anak-anak tidak mampu. Coba akang tengok ke kelas, seragam dan sepatunya pun terlihat lusuh. Seadanya,” ungkap Zenal, salah seorang pendiri sekolah tersebut.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi hambatan serta alasan untuk bermalas-malasan dalam mengajar, dan tidak terlewatkan memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri. “Bukti kesungguhan kami, alhamdulillah kemarin tingkat kecamatan kita juara lari dan kaligrafi,” sebutnya. [Syaepul]

Komentari

komentar