Humaniora

Tidak Bisa Melihat, Mereka Tetap Semangat Belajar Al-Quran


initasik.com, humaniora | Puluhan tunanetra mengikuti pesantren Ramadan Al-Quran braile di Majelis Ta’lim Al-Hikmat, Gang Cintarasa, Jalan RSU, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Mereka berharap, meski saat tidak mampu melihat terangnya dunia, namun bacaan Al-Quran mesti bisa menerangi hati dan di kehidupan berikutnya.

Ketua Majelis Ta’lim Al-Hikmat, M. Rahmat, menyebutkan, di tempatnya terdapat sebanyak 70 orang anggota dengan kondisi tunanetra yang kesulitan untuk bisa membaca Al-Quran. Selama ini hanya mendengarkan lantunan ayat suci tersebut, meski telah ada yang mengenal Al-Quran Braile.

“Sebenarnya sejak 2007 kami selalu menggelar even ini. Tujuannya agar terutama anak-anak bisa benar-benar membaca Al-Quran braile tersebut, sehingga mampu memahami setiap huruf dengan makhraj yang benar. Namun pada pesantren Ramadan kali ini memang bukan hanya anak-anak, tetapi kaum dewasa pun ada yang datang dan mengikutinya setiap hari,” ungkap Rahmat.

Seperti halnya Rizwan Azka Saputra, siswa SLB Negeri Kabupaten Ciamis. Ia mengaku ikut pesantren tersebut karena ingin bisa mahir mengaji mulai paham makhraj sampai artinya. “Saya beragama Islam, dan Al-Quran adalah kitab suci sebagai pedoman hidup saya. Namun memang saya kesulitan karena tidak bisa melihat untuk mempelajari dan membacanya. Saat ini dengan adanya Al-Quran braile jelas sangat membantu, makanya terus ingin memaksimalkan belajar di sini,” kata Rizwan.

Sementara itu, Pengurus Ummi Maktum Voice, Yayat Ruhiyat, mengatakan, konsentrasinya terhadap bimbingan dan pembinaan membaca Al-Quran braile telah dilaksanakan sejak 2005, dan telah membagikan 11.000 Al-Quran braile yang disebar ke seluruh Indonesia.

Tahun ini pihaknya memfokuskan diri untuk membaca dengan tiga sesi dan tiga modul yang ada dengan dilaksanakan di berbagai daerah, seperti Pangandaran, Cimahi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung, termasuk Kota Tasikmalaya.

“Selama ini tunanetra hanya dilibatkan dalam hapalan. Namun kali ini misi kami adalah memberantas buta huruf Al-Quran. Makanya pelatihan terus digelar di berbagai tempat, karena sangat prihatin ketika melihat mereka sudah tunanetra ditambah lagi tidak bisa membaca Al-Quran. Berangkat dari keprihatinan itulah maka kami terus berupaya mengadakan kegiatan seperti ini,” tutur Yayat. [Kus]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?