Edukasi

Tidak Gampang Memutuskan Sekolah Lima Hari

initasik.com, edukasi | Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Achdiat Siswandi, mendukung penuh pembatalan atau penundaan pelaksanaan sekolah lima hari. Menurutnya, perlu persiapan matang bila wacana itu benar-benar ingin diterapkan.

“Tapi kalau saya pribadi lebih sepakat sekolah enam hari. Jam anak di sekolah tidak terlalu lama. Selain otak bisa kelelahan, untuk daerah-daerah pelosok itu pasti menimbulkan persoalan lain,” ujarnya kepada initasik.com, Kamis, 29 Juni 2017.

Ia mengaku, sampai sekarang belum pernah diajak musyawarah terkait wacana itu. Beda dengan, misalnya, kalau ada pengubahan kurikulum. Semua kepala dinas se-Indonesia diundang untuk duduk satu meja. Tapi tidak demikian dengan wacana sekolah lima hari.

“Tidak gampang untuk memutuskan sekolah lima hari. Segalanya harus disiapkan. Tidak akan cukup dalam waktu satu atau dua tahun. Kita tetap ingin sekolah enam hari, sehingga waktu anak-anak bertemu dengan guru lebih banyak dan anak tetap punya waktu belajar agama di madrasah diniyah,” tuturnya.

Bila ada sekolah yang siap menjalankan sekolah lima, ia mempersilakan. Di Kota Tasikmalaya sudah ada yang begitu. Misalnya SDN Citapen. Sekolahnya lima hari. Untuk pelajaran agama, sekolah mengundang para ustaz.

“Tapi, tidak semua sekolah orangtuanya mampu secara ekonomi. Hanya sekolah-sekolah tertentu. Pengeluaran bisa tambah besar, setidaknya bekal untuk anak ditambah. Belum lagi kalau kita melihat sekolah yang sulit akses transportasi. Pasti akan merepotkan. Menurut saya lebih baik tetap seperti sekarang. Sekolahnya enam hari,” tegasnya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?