Iim Imanulloh (kedua dari kanan) saat kunjungan ke rumah siswa | Ist
Edukasi

Tidak Memungut Biaya Sekolah, SMA GAZA Ingin Kaum Duafa Bangkit dari Kemiskinan

initasik.com, edukasi | Tak sedikit orang mendirikan lembaga pendidikan untuk dijadikan sebagai pundi keuangan. Segalanya serbabayar. Apapun diuangkan. Pendidikan jadi industri.

Tapi tidak demikian dengan SMA GAZA, di Kampung Babakan, Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya. Sejak didirikan tiga tahun lalu, sekolah yang berada di bawah Yayasan Jamiyatul Abror Al-GAZA itu sama sekali tidak memungut biaya apapun kepada peserta didiknya. Malah makan dan seragam disediakan sekolah.

“Kami mendirikan lembaga pendidikan ini murni sosial. Segalanya gratis. Itu semua demi membantu kaum duafa, karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendidikan salah cara efektif untuk meningkatkan kapasitas diri,” tutur Yayasan Jamiyatul Abror Al-GAZA, Iim Imanulloh, Selasa, 29 Agustus 2017.

Ia menceritakan, alasan lain dari pendirian sekolah gratis itu adalah dirinya jugaberasal dari kaum duafa. Anak terlantar. Tinggal di panti asuhan. Ketika sekarang hidupnya lebih baik dari sebelumnya, ia wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berterima kasih kepada semua pihak yang membantunya.

“Salah satunya dengan mendirikan lembaga sosial pendidikan ini. Saya selalu memotivasi diri sendiri dan anak-anak didik saya untuk tidak malu darimana kita berasal, tapi harus malu bila kita tidak bangkit berdaya dan berguna,” tandas pria yang juga menjabat Sekjen Gabungan Anak Jalanan (GAZA) itu.

Di sekolahnya, para peserta didik tidak hanya diberi pengetahuan umum seperti di tempat lainnya. Ia menyebutnya sekolah pesantren lifeskill. Sejak pagi sampai pagi lagi penuh dengan kegiatan.

Dari pukul 07.30 s.d. 14.00 WIB, para siswa sekolah seperti umumnya. Istirahat satu jam. Pukul 15.00 s.d. 17.30 diajar kecakapan diri, seperti menjahit, berkebun, beternak, dan otomitif. Kemudian dari pukul 18.00 s.d. 21.00 ada kajian kitab kuning. Tidur. Subuh, melanjutkan kajian kitab kuning.

Kini, siswa di SMA GAZA, mulai kelas 10 sampai kelas 12 ada 60 orang. Ia sengaja membatasi jumlah murid, karena keterbatasan sarana-prasarana dan biaya operasional, terutama untuk makan sehari-hari.

Selain dari Kabupaten Tasikmalaya, seperti Cipatujah, Karangnunggal, Bojonggambir, Sodonghilir, Mangunreja, Singaparna, serta Cigalontang, para siswa ada juga yang dari Kota Tasikmalaya, Bekasi, Cilacap, dan Yogyakarta.

Untuk menumbuhkan ikatan emosional dengan keluarga siswa, Iim kerap melakukan kunjungan rumah atau home visit. “Itu dilakukan agar anak dan keluarganya semakin termotivasi untuk bangkit dari keterpurukannya. Bahwa ada juga pihak yang peduli dan ingin membantu mereka lepas dari jerat kebodohan dan kemiskinan,” ujarnya.

Menurutnya, hasil dari kunjungan ke rumah siswa itu diyakini, semua anak didiknya berasal dari kalangan duafa. Mereka adalah anak yatim, piatu, yatim piatu, anak jalanan, anak terlantar, bahkan ada anak korban kekerasan rumah tangga dan asusila.

Ditanya dari mana untuk biaya operasional sekolah dan keperluan makan siswa, ia menjawab, “Alhamdulillah, untuk biaya operasional selama ini sumbangan dari keluarga besar dan simpatisan GAZA. Dari pemerintah pernah satu kali.” [Jay]

Komentari

komentar