Jay | initasik.com
Humaniora

Tidak Punya Tangan, Bagaimana Kang Momon Beri Kembalian Uang Parkir?

initasik.com, humaniora | Sejak lahir, Kang Momon Suherman ditakdirkan tidak sempurna secara fisik. Ia tak punya tangan utuh. Hanya sampai lengan. Panjangnya sekitar satu jengkal dari pundak.

Di lengan sebelah kirinya ada semacam jari. Ada dua jari. Itu sangat membantunya menjalankan tugas sebagai juru parkir di salah satu minimarket, di Jl. Ir. H. Djuanda, Kota Tasikmalaya. Jari-jari itulah yang ia gunakan untuk menerima uang parkiran dari para pengendara.

Tapi, ia hanya bisa menerima. Kalau harus memberi uang kembalian, Kang Momon kesulitan. Solusinya, ia persilakan pengendara untuk mengambil kembaliannya di saku rompi sebelah kiri. Menyodorkan dadanya. “Saya sudah dua tahun jadi tukang parkir di sini,” ujarnya saat berbincang dengan initasik.com, Senin, 29 Mei 2017.

Sebelumnya, warga Cikiara, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, itu mengaku jualan di kios. Itu dijalaninya sejak 1997, tapi kandas juga. Sempat menganggur setahun, ia akhirnya memilih jadi juru parkir. “Nanti itu lebaran Idul Fitri yang ketiga sejak saya kerja di sini,” imbuhnya.

Dari sekitar 400 petugas parkir resmi yang tercatat di UPTD Pengelolaan Parkir Kota Tasikmalaya, Kang Momon beda dari segalanya. Secara fisik, jelas. Bisa jadi hanya dia yang tidak punya lengan. Perbedaan lainnya adalah ia tak memusingkan apakah pengendara membayar uang parkir atau tidak. Bebas. Apalagi yang naik motor.

Biasanya, saat ada motor yang akan beranjak dari tempat parkir, petugas lain sigap membunyikan peluitnya. Lalu pura-pura pegang ekor motor, tiup peluit lagi, nampan. Terima uang. Kang Momon tidak begitu.

“Ada perasaan minder. Kondisi saya, kan, seperti ini. Kalau harus berdiri di belakang motor yang akan keluar parkir, hati ini tidak nyaman. Merasa minder. Terasa seperti pengemis. Naudzubillah. Di sini tempatnya luas. Kalau motor bisa parkir sendiri. Tidak perlu dibantu mengatur lalu-lintas. Beda dengan mobil yang harus dibantu,” tutur suami Imas dan ayah satu anak itu.

Ia mengaku tidak ambil pusing soal uang parkiran. Diberi diterima, tidak pun tidak akan meminta, apalagi memaksa. Besarannya pun tidak ia patok. Bebas. Diberi berapapun diterima. “Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Saya hanya bekerja sesuai kemampuan diri,” tandasnya.

Penghasilannya dalam sehari tidak tentu. Kalau lagi ramai bisa dapat Rp 130 ribu. Bila sepi, di bawah Rp 100 ribu. Setiap bulan ia harus setor Rp 75 ke instansi terkait, dan Rp 150 ribu ke karang taruna setempat. [Jay]