Foto-foto: Dok. initasik.com & Facebook
Sosial Politik

Tiga Darah Tasikmalaya dalam Pilkada Jabar

initasik.com, politik | Pemilihan calon kepala daerah (Pilkada) Jawa Barat 2018 punya catatan tersendiri bagi Tasikmalaya, kota atau kabupaten. Dari empat pasangan calon yang bakal maju dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur, tiga orang di antaranya berdarah Tasikmalaya. Mereka adalah Uu Ruzhanul Ulum, Anton Charliyan, dan Ridwan Kamil.

Siapa Uu Ruzhanul Ulum, warga Kabupaten Tasikmalaya sudah sangat mengenalnya. Selain masih menjabat bupati Tasikmalaya untuk periode 2016 s.d. 2021, ia juga merupakan cucu dari pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, KH Choer Affandy.

Putra dari pasangan KH Sholeh Nasihin dan Hj. Enung Muthmainah, kelahiran Tasikmalaya, 10 Mei 1969, itu mengawali karier politiknya dengan menjadi pengurus ranting Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Desa Kalimanggis, Manonjaya, pada 1987. Sepuluh tahun kemudian, ia aktif di kepengurusan DPC PPP.

Di usianya yang terbilang muda, yakni 30 tahun, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya. Karier politiknya melejit. Setelah sempat menjadi ketua DPRD, pada 2011 ia maju dalam pemilihan calon bupati-wakil bupati bersama Ade Sugianto. Mereka menang.

Nasib mujurnya kembali terulang dalam pilkada 2016. Masih bersama Ade Sugianto, Uu menjadi bupati Tasikmalaya untuk periode kedua. Namun, jabatannya itu mesti segera ditunda. Ia harus cuti di luar tanggungan negara, karena maju dalam Pilgub Jabar.

Selain Uu, bakal calon wakil gubernur Jawa Barat asal Tasikmalaya lainnya adalah Anton Charliyan. Putra sulung dari pasangan Eman Karman dan Momoh Fatimah itu merupakan pekerja keras dan sayang keluarga.

“Dia sangat baik dan sopan. Kalau pulang atau mau berangkat tugas dia selalu mampir ke sini. Suka mencium kaki ibu,” ujar Momoh saat ditemui initasik.com di rumahnya, Jl. Kapten Naseh, Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Sambil duduk di kursi roda, ia bercerita, sejak suaminya meninggal dunia, Anton menjadi tulang punggung keluarga. Ia membiayai sekolah adik-adiknya. Bukan hanya ke keluarga sendiri, kepada masyarakat umum juga begitu.

Momoh mengatakan, kalau pulang ke Kota Tasik, Anton biasa membeli puluhan nasi bungkus. Menggunakan sepeda ontel, ia membagikan nasi-nasi itu pada tukang becak, pengemis, sampai penyapu jalan.

Ada satu hal yang tidak pernah hilang dari ingatannya. Anton muda jalan kaki dari Tasik ke Bandung. “Selama empat hari ia berjalan bersama beberapa rekannya. Saat itu saya sempat melarang. Tapi dia keukeuh. Ingin menjajal kemampuan katanya. Setelah pulang, ia menceritakan pengalamannya. Katanya setiap malam tidur di masjid, bahkan saat istirahat di salah satu Kodim, ia diberi bekal untuk beli air,” kenangnya.

Sosok lainnya adalah Ridwan Kamil. Pria yang kini menjabat wali Kota Bandung itu punya hubungan khusus dengan Tasikmalaya. Ia merupakan putra dari pasangan Tjutju Sukaesih dan Atje Misbach.

Tjutju lahir di Tasikmalaya. Setelah lulus dari SMAN 1 Tasikmalaya, ia kuliah di ITB, dan sampai sekarang menetap di Bandung. Sebelum pensiun, ia mengajar di Universitas Islam Bandung, serta menjadi staf ahli Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat.

Harri Zauhari, sepupu Ridwan Kamil, menjelaskan, orangtua Tjutju Sukaesih berasal dari Panjalu, Ciamis, dan Limbangan, Garut. “Aki Rusdi hijrah ke Tasikmalaya saat zaman penjajahan Belanda, dan menikah dengan Ma Erus. Rumahnya di daerah Cipaten yang sekarang dipakai toko ban, pas pengkolan,” jelas warga Padasuka, Tawang, Kota Tasikmalaya itu.

Ia menyebutkan, sampai sekarang keluarga dari Tjutju Sukaesih masih banyak yang tinggal di Kota Tasikmalaya. Sedangkan Aki Rusdi dan Ma Erus, kakek-nenek Ridwan Kamil, dimakamkan di TPU Cinehel, Kota Tasikmalaya. “Almarhum ayahnya Emil adalah kakak ibu saya,” imbuh Harri menjelaskan silsilah keluarga. [Jay/Dan]

 

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?