Pipit Indah Purwanti bersama anak-anak Rumah Pendidikan MIPA Satellite | Ist
Keluarga

Tiga Kata Kunci dalam Mendidik Anak


initasik.com, keluarga | Pipit Indah Purwanti, pengelola Rumah Pendidikan MIPA Satellite, Kota Tasikmalaya, punya catatan tertulis seputar perkembangan anaknya dari mulai lahir sampai sekarang. Semua dicatat dalam buku khusus. Setiap hari ditulisnya.

Bukan tanpa alasan. Ia melakukan itu untuk mengobservasi setiap perkembangan anak semata wayangnya.  Meneliti dengan seksama setiap gerak-geriknya. “Observasi merupakan langkah utama yang harus dilakukan seorang ibu. Kita bisa melihat perkembangan anak dan memerhatikan setiap kesenangannya. Semua perkembangan anak, saya catat,” tuturnya.

Menurutnya, observasi menjadi kata kunci pertama dalam mendidik anak. Dengan melakukan observasi, ia mengaku jadi paham bagaimana kondisi anak dan apa yang dibutuhkannya. Hasil observasi itu menjadi acuan dalam membimbing dan mengarahkan anak.

“Anak sepintar apapun, kalau tidak mendapatkan bimbingan, pasti sulit maju. Sebaliknya, anak yang menurut orang-orang bodoh, bila orangtuanya intensif membimbing, pasti hasilnya memuaskan. Banyak anak istimewa yang mengalami dissinkronisasi antara otak dan mentalnya. Potensinya tidak termaksimalkan, karena sibuk dengan emosinya sendiri. Orangtua tidak jeli melihat kondisi dan kebutuhan anak,” paparnya.

Selain membimbing, sejak dini ia menanamkan akhlak. Itu menjadi kata kunci kedua. Menurutnya, tidak sedikit anak berprestasi bagus tapi ternyata didapat dengan cara curang. Hasil mencontek, misalnya.

Pipit meyakini, kalau akhlak anak sudah bagus, ia pasti tumbuh pintar. Kepintarannya itu didapat dari kerja kerasnya dalam belajar. Selalu berusaha untuk bisa. Tidak mau mencontek. “Akhlak itu sangat penting. Orangtua harus menanamkannya sejak kecil. Semua pelajaran akan jadi gampang ketika anak memiliki akhlak, karena dia dibiasakan belajar sungguh-sungguh,” tandasnya.

Baca: Siswa Tasikmalaya Wakili Indonesia Lomba Sains di Korea

Setelah membimbing dan menanamkan akhlak, kata kunci ketiga adalah keteladanan. Orangtua mesti jadi teladan bagi anak-anak. Jangan menyuruh anak untuk tepat waktu, misalnya, bila ternyata orangtua suka mengulur-ulur waktu. Tidak bijak menekankan kejujuran pada anak, jika faktanya orangtua mudah berbohong.

“Sebagai orangtua, kita harus memberikan keteladanan kepada anak. Kalau ada yang jelek dalam diri kita, kita harus mengubahnya. Jangan sampai menyuruh anak jujur, sementara kita sendiri tidak jujur. Anak merekam semua apa yang kita katakan. Mereka meniru apa yang kita lakukan,” bebernya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?