Peristiwa

Tiga Narkoba Favorit di Kota Tasik

Kota Tasik | Kasat Narkoba Polres Tasikmalaya Kota, Iptu Erustiana, menyebutkan, ada tiga jenis narkoba yang saat ini sedang in di Kota Tasikmalaya, yaitu ganja, diazepam, dan sabu-sabu. Ketiganya banyak disalahgunakan.

“Selama Januari sampai Desember 2014, ada 25 penangkapan kasus ganja, 16 kasus diazepam, dan 21 kasus sabu,” ungkapnya saat diwawancara di sela talk show seputar narkoba di aula pendopo lama, Kamis, 18 Desember 2014.

Namun, kendati ganja terbanyak kasus penangkapannya, ia meyakini diazepam paling banyak yang digunakan. Selain terbilang murah, didapatnya juga mudah. “Banyak diazepam yang dijual gelap melalui oknum pegawai. Karena untuk membeli obat itu seharusnya dengan resep dokter. Tanpa resep tidak akan dilayani. Kalau dilayani tanpa resep, izin usahanya bisa dicabut,” tuturnya.

Menurutnya, satu strip (lembar) diazepam harga normalnya kisaran Rp 12 ribu – Rp 17 ribu. Tapi, kalau sampai ke tangan para penggunanya bisa mencapai Rp 200 ribu. “Diazepam itu sebenarnya obat penenang. Di tiap apotek pasti ada. Bagi yang sakit maagnya kronis, migren berat, habis dioperasi sesar, pasti dokter memberi obat sejenis diazepam dengan kadar berbeda. Jika dikonsumsi melebihi dosis, efeknya jadi lain. Orang yang tadinya penakut jadi pemberani. Pemakainya bisa memiliki pribadi yang bertolak belakang,” beber kasat.

Selain diazepam, sabu-sabu pun harganya terus naik. Dari pertama ada sekitar Rp 400 ribu untuk satu ji (sekitar 700 miligram), sekarang mencapai Rp 2 juta. “Tapi ada juga paket hemat yang harganya Rp 500 ribu untuk lima orang pemakai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sabu-sabu tidak akan membuat kecanduan (sakau), tapi merindukan. Mirip orang lagi jatuh cinta. Apapun dilakukan untuk yang dicintainya. Seperti yang dilakukan seorang pengusaha sukses di Kota Tasikmalaya. Kecintaannya pada sabu-sabu telah membuat usahanya hancur. Omzet Rp 5 miliar tinggal kenangan.

“Itu dialami teman saya. Saya sudah berkali-kali mengingatkannya agar berhenti memakai sabu. Tapi ia tidak menurut, sehingga jatuh bangkrut. Bagaimana tidak bangkrut? Sehari ia menghabiskan uang sampai Rp 4,5 juta untuk membeli sabu,” ujarnya mengisahkan. initasik.com|ashani

Komentari

komentar