Etalase

Tiga Tahun Jualan Getuk, Kini Hendra Punya Lima Roda


initasik.com, etalase | Harus beda. Begitu motivator bisnis menyarankan agar usaha yang dirintis bisa berkembang. Dengan beda, pesaingnya sedikit. Begitulah yang dilakukan Hendra, penjual makanan tradisional yang sulit didapat di warung-warung.

Pria asal Garut itu sengaja pindah ke Tasik untuk berjualan makanan tradisional. Ada berbagai jenis makanan tradisional yang ia jual, seperti getuk, putri noong, gurandil, dan lupis. Semua makanan tradisional itu begitu apik disusun di atas baki dalam roda yang bersih.

Ia mengaku sudah tiga tahun jualan makanan tradisional. Asalnya hanya satu roda, kini sudah punya lima roda. Tiga di daerah Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, dua lagi di Ciamis. Ia sendiri biasa mangkal di sekitaran Gedung Bupati, Bojongkoneng, dan sesekali berkeliling ke daerah Sukarame.

Menurutnya, berdagang makanan tradisional untungnya cukup besar. Pasalnya, selain bahan yang digunakan tidak terlalu sulit didapat, modalnya tidak terlalu besar. Dengan bahan yang sedikit, bisa menghasilkan dagangan yang melimpah.

“Misalnya getuk, modal untuk Getuk buat tiga roda hanya Rp 200 ribu. Satu roda dijatah 114 getuk. Harga per getuknya seribu rupiah, tinggal dikali tiga roda. Alhamdulillah ada lebihnya,” ujar Hendra.

Namun, ada satu kelemahan dalam usahanya tersebut, yaitu terletak pada bahan baku makanan seperti kelapa. Menurutnya itu kendala utama. Jika dagangannya sedang sepi, otomatis risiko pun harus dihadapi. Olahan makanan yang memiliki campuran kelapa ini mudah basi, dan asam jika didiamkan terlalu lama.

Dalam sehari, jika sedang ramai, Hendra mengaku bisa mendapatkan omzet sampai Rp 500 ribu per roda. Kalau lagi sepi kisaran Rp 200 sampai Rp 250 ribu. “Namanya juga dagang. Ada ramai, ada sepi,” imbuhnya. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentari

Komentari