Jay | initasik.com
Etalase

TO Instan titaSik Terbang ke Malaysia Hingga Arab Saudi

initasik.com, etalase | Rumah makan Padang ada di mana-mana. Bila suatu waktu mendadak ingin menyantap makanan yang identik dengan rasa pedasnya itu, mudah untuk mendapatkannya.

Tapi bagaimana jika, misalnya, ujug-ujug kepikiran ingin makan TO alias tutug oncom? Pasti sulit dicari. Tidak semua rumah makan Sunda menyediakan makanan khas tanah Pasundan itu. Padahal, populasi Suku Sunda jauh lebih banyak dibanding Minangkabau.

Pikiran itulah yang terbersit di benak Kainda Maulida Farda Az-Zahra, sehingga bersemangat mengembangkan usaha TO cepat saji. Usai menamatkan kuliahnya di Bandung, ia pulang kampung merintis bisnis bersama suaminya, Ahmad Hafidz Al-Arsyad. Jadilah TO instan titaSik.

“Waktu kuliah semester tujuh, saya dan suami jualan nasi TO di depan kampus. Kita sewa tempat di Pujasera. Alhamdulillah ramai, banyak yang beli, meski harus pintar-pintar mengatur waktu. Subuh ke pasar, siang kuliah dan jualan. Sampai malam,” kenang Kainda.

Saat libur kuliah, Pujasera sepi. Tidak banyak mahasiswa di kampus. Sementara bumbu TO masih banyak. Ada ide. Dikemas. Dibungkus. Dimasukkan ke plastik. Ditawarkan ke saudara dan teman-temannya. Laku.

“Waktu jualan TO di kampus itu, bumbunya yang bikin ibu di Tasik. Dikirim via bus. Dititipkan ke kondektur. Pas masuk libur kuliah, bumbunya masih banyak. Kita ada ide dijual bumbunya saja. Ternyata laku. Jadi punya ongkos untuk pulang ke Tasik,” tuturnya.

Dari situlah muncul ide membuat TO instan kemasan. Awalnya tanpa modal. Hanya ditawarkan di jejaring sosial. Ada yang pesan, transfer uang, baru dibuatkan. Lantaran dijual via media daring alias dalam jaringan (online), Kainda sadar, kemasan harus menarik.

“Kemasannya kita yang buat sendiri. Dicetak sendiri. Dilem sendiri. Segalanya sendiri. Kalau sekarang Alhamdulillah sudah bisa membayar jasa desain. Makanya tampilannya terlihat lebih bagus,” sebutnya.

Untuk memperkuat citra kalau TO itu asal Tasikmalaya, dalam kemasannya dibuat gambar-gambar yang identik dengan Tasikmalaya, seperti Gunung Galunggung, Masjid Agung Kota Tasikmalaya, tugu Alun-alun dan lainnya.

Kini, TO Instan titaSik sudah berjalan sekitar dua tahun. Kainda tidak lagi berdua dengan suaminya. Ada enam karyawan yang turut membantu di rumah produksinya, di Jl. Siliwangi, dekat Brigif, Tawang, Kota Tasikmalaya. Dalam satu bulan, omzetnya mencapai Rp 25 juta. Itu dalam kondisi sepi. Jika sedang ramai, jumlahnya lebih besar lagi.

“Konsumen kita kebanyakan orang Sunda. Tapi mereka tinggal di Hongkong, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, sampai Arab Saudi. Yang bukan orang Sunda banyak juga yang beli,” terang Kainda.

Selain TO instan, ia juga menjual sambel cikur yang dikemas dalam botol. Harganya beda-beda. Tergantung ukuran. Untuk sambal mulai Rp 17.500 sampai Rp 60 ribu. Sedangkan TO mulai Rp 15 ribu untuk 80 gram sampai Rp 250 ribu ukuran 2 kg. Mereka yang beli ukuran 2 kg itu biasanya rumah-rumah makan di Bekasi atau Jakarta

“Kita juga tidak menyangka, ternyata yang pesan adalah rumah makan elite. Kita tahu itu dari alamat kirimnya. Di kita juga ada peluang usahanya. Ada harga reseller. Ketentuannya, pembelian pertama minimal order Rp 250 ribu. Selanjutnya, beli satupun kita beri harga reseller,” ujarnya berpromosi. [Jay]