Ustaz Maman Suratman
Sosial Politik

Tokoh Agama Prihatin Kondisi Sosial Kota Tasik

initasik.com, sosial | Sejumlah tokoh agama di Kota Tasikmalaya mengaku prihatin dengan penyakit-penyakit sosial yang sampai saat belum tertangani dengan baik. Peredaran narkoba sampai pengidap HIV/AIDS menjadi pekerjaan rumah yang butuh penanganan serius.

Pimpinan Ma’had Ihya Assunnah Tasikmalaya, Ustaz Maman Suratman, mengatakan, memang tidak mungkin menekan kemaksiatan sampai titik nol, tapi untuk meminimalisir bukan hal yang mustahil.

“Perda Tata Nilai sampai saat ini belum bisa dijiwai secara utuh oleh seluruh masyarakat. Lagi pula isinya hanya sekadar imbauan, ajakan, dan sebagainya yang belum diimbangi dengan konsekuensi hukum,” tuturnya.

Ia menilai, keberadaan Perda Tata Nilai belum membawa perubahan terhadap kehidupan sosial di Kota Tasikmalaya. “Kemaksiatan masih memprihatinkan, peredaran narkoba, pengidap HIV/AIDS masih banyak, perjudian juga masih kita dengar ada,” sebutnya.

Sebagai pemuka agama, ia  mengaku hanya bisa berbuat sesuai kapasitas dirinya. Mengingatkan dan mengajak masyarakat untuk selalu berbuat yang sejalan dengan tuntunan agama.

“Sebaiknya keberadaan Perda Tata Nilai itu memberikan efek jera. Tapi memang, ketika satu peraturan tanpa dikawal konsekuensi hukum, pasti tidak akan efektif. Mudah-mudahan ke depan ada perda yang memuat konsekuensi hukum, sehingga keberadaannya lebih efektif,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya, Ustaz Hilmi Afwan, menyatakan keprihatinan yang sama. Menurutnya, kondisi saat ini tak bisa dipungkiri. Kemaksiatan semakin merajalela, geng motor masih ada, begitupun dengan prostitusi, LGBT dan lainnya.

“Di satu sisi, itu jangan kita biarkan begitu saja. Satu sisi kita melihatnya tidak suka dengan kemaksiatan seperti itu, dan kita harus bergerak, tapi di satu sisi lagi kita berhadapan dengan aparat,” tuturnya.

Komandan Propam Laskar Majelis Mujahidin Indonesia Jawa Barat, Ustaz Iri Samsuri, menyebutkan, kemaksiatan di Kota Tasikmalaya yang sering digadang-gadang sebagai kota santri masih banyak dan perlu penanganan serius.

Ia berharap, wali kota sebagai pemegang kekuasaan bisa bertindak tegas dengan menutup ruang-ruang yang bisa dijadikan tempat kemaksiatan. “Jangan sampai ada kemaksiatan yang dilegalkan,” tandasnya. [Milah]