Jay | initasik.com
Sorot

Topeng Monyet di Antara Sebutan Pengemis dan Perut Lapar

initasik.com, sorot | Berkali-kali Adin ditangkap Satpol PP. Ia dibawa ke kantor, didata, lalu dipulangkan. Selalu seperti itu. Pemain topeng monyet yang biasa mangkal di ujung utara Jl. Tentara Pelajar, Kota Tasikmalaya, itu mengaku sudah tidak aneh kalau kena tangkap aparat penegak perda itu.

Untuk menyiasatinya, ayah dua anak itu selalu sembunyi kalau ada Satpol PP. Bukan takut, tapi malas berurusan dengan mereka. Apalagi kalau perangkat musik pengiring sudah ditahan di kantor. Ia mesti minta bantuan kenalannya untuk mengambil alat itu.

“Padahal, kan, saya tidak mengganggu. Tidak memaksa juga untuk diberi. Kalau diberi, terima. Kalau tidak diberi, ya tidak apa-apa. Memainkan monyetnya juga kalau lampu stopan sedang merah,” ujar Adin kepada initasik.com, Rabu, 31 Mei 2017.

Ia mengaku terpaksa jadi tukang monyet, karena butuh uang untuk menafkahi keluarga. Setelah berhenti kerja dari sebuah pabrik, ia putar otak untuk mencari uang. Dapur harus tetap ngebul. Istri-anak mesti makan. Dicobalah topeng monyet.

Tiap hari, dari pagi sampai sore, ia mengaku pendapatannya tidak menentu. Apalagi di bulan Ramadan. Dapat Rp 50 ribu terbilang bagus. “Cari uang Rp 1.000 juga susah. Yang lempar kebanyakannya uang receh. Itupun tidak semua kendaraan yang berhenti di sini ngasih uang,” tuturnya.

Uang yang didapatnya itu tidak masuk saku semua. Harus dipotong Rp 15 ribu untuk sewa monyet. “Belum buat makan dan keperluan lainnya. Pendapatannya itu kecil sebenarnya, tapi yang namanya butuh dijalani saja,” imbuhnya.

Pengakuan serupa dilontarkan Iwan. Ia dan temannya memainkan topeng monyet di perempatan Alun-alun Kota Tasikmalaya. Mereka masih muda. Usianya kisaran 25 tahun. Sulitnya mendapatkan kerja memaksa mereka memilih itu. Iwan bagian pegang monyet, temannya bertugas minta uang ke pengendara.

“Saya baru sekitar lima bulan kerja begini. Terpaksa, Pak. Mau kerja, susah. Saya hanya lulusan SMA. Jadinya kerja apa saja yang penting halal. Lagipula saya jadi tulang punggung keluarga. Bapak sudah meninggal dunia,” paparnya.

Ditanya berapa penghasilan sehari, ia menjawab tak pasti. Rata-rata Rp 60 ribu. Itu belum dipotong sewa monyet Rp 20 ribu. Sisanya dibagi dua. “Dapat uang berapapun saya selalu berikan ke ibu. Saya mengambil seperlunya,” ucap pria berbadan lumayan gempal itu.

Adin dan Iwan berharap, Satpol PP serta dinas terkait tidak mengganggu lahan pekerjaannya. Mereka tidak merasa mengganggu masyarakat, malah memberi hiburan, terutama bagi anak-anak.

Terpisah, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Beti Badrawati, mengatakan, pihaknya sudah punya rencana untuk menertibkan para tukang topeng monyet. Ia akan membeli monyet-monyet itu, kemudian dilepaskan ke alam bebas.

“Tukangnya akan kita berdayakan. Mau usaha apa kita dukung. Kita tidak kasih uang, tapi barang. Selama ini banyak yang mengeluhkan keberadaan tukang topeng monyet. Bagi kami, mereka itu termasuk pengemis dan mengeksploitasi binatang,” bebernya.

Lantaran dikategorikan pengemis, agenda penuntasannya akan dimasukkan ke dalam anggaran gepeng alias gelandangan dan pengemis. Beti menyebutkan, tahun ini anggaran untuk gepeng ada Rp 150 juta.

Sementara itu, Adin dan Iwan tidak menerima kalau mereka disebut pengemis. “Saya ini terpaksa jadi tukang topeng monyet. Cari kerja susah. Tapi da perut lapar mah tidak tahu kalau cari kerja itu susah. Tetap saja harus makan. Begini-begini juga harus pakai keahlian. Tidak semua orang bisa memainkan topeng monyet. Kalau mengemis mah tidak perlu keahlian,” tutur Adin. [Jay]