Net
Refleksi

Uang dan Lingkaran Pengaruh

Oleh: Asep Sufyan Ramadhy*

Apakah tidak ada yang lebih berharga daripada uang? Mengapa kebaikan dan kejujuran tidak menjadi standar status sosial yang patut dimuliakan?  Ketika office boy di kantor yang dengan penuh ketulusan dan kepolosan mengajak kebaikan kepada bosnya, ternyata tidak digubris hanya gara-gara yang bicara adalah seorang pegawai rendahan.

Dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective Peoples”, Steven Covey pernah menyebutkan istilah ‘lingkaran pengaruh’. Semakin luas lingkarannya, semakin besar daya imbau dan pengaruhnya.

Saat Dorna sedang melatih muridnya memanah dengan membidik burung kayu yang bertengger di atas dahan, Dorna bertanya kepada Duryudana, “Apa yang kau lihat?” Duryudana menjawab, “Hamba melihat burung kayu di dekat ranting sebelah kiri dahan.”

Namun ketika Dorna bertanya hal yang sama ke Arjuna, Arjuna menjawab, “Yang hamba lihat hanyalah kepala burung kayu saja, tak ada yang lainnya.”

Bagi Dorna, jawaban Arjuna yang paling tepat. Filosofi memanah adalah membidik dan menentukan pusat persepsi. Untuk mencapainya diperlukan sikap fokus sambil meniadakan yang lainnya untuk bergerak agresif, cepat, tajam, tegas bagai anak panah yang melesat.

Dari pusat persepsi inilah akan ditentukan mana lingkaran yang dekat, mana yang jauh, mana yang benar, dan mana yang salah. Makin dekat dengan lingkaran pusat, maka semakin dianggap benar dan tepat. Realitanya saat ini pusat lingkaran yang diyakini sebagai pusat kebenaran bagi banyak orang tersebut adalah “uang”.

Dari Covey dan Dorna kita belajar, betapa ruginya saat ini ketika manusia jujur dan baik namun kecil diameternya, sehingga lingkaran pengaruhnya pun seperti tak terasa. Kehadiran orang-orang inspiratif semacam itu hanya sekedar oase di padang pasir.

Di sisi lain, betapa menyedihkannya manusia yang agresif, cepat, tajam, tegas dan akurat sambil meniadakan apapun dalam rangka meraih pusat kebenaran menurut versinya justru mendapat tempat dan pengakuan dari orang banyak.

Tak peduli apakah sistem monarki atau demokrasi yang dipakai di suatu negara, apakah ideologinya kapitalis-liberalis ataupun komunis, namun kesimpulannya kini tetap sama bahwa uang sebagai alat tukar barang memang tengah menjadi dewa.

Siapapun yang memilikinya, apalagi dalam jumlah banyak, maka patut dimuliakan dan dijunjung setinggi-tingginya. Tak peduli kelakuannya seperti apa dan lebih tak peduli lagi uang tersebut berasal dari mana, nyaris berlaku umum bahwa siapapun yang menjadi pusat kepemilikan uang, maka di sanalah pusat kekuasaan dan juga pusat kebenaran.

Dengan uang, penguasa bisa memanipulasi kebenaran melalui media massa. Dengan uang, politisi busuk tetap dapat dicitrakan baik, karena mampu membeli media menyeleksi berita untuk menggiring opini publik. Tak mengherankan, kini siapapun berbondong-bondong ingin menjadi orang kaya. Bahkan para penganjurnya menggunakan dalil-dalil agama dan motivasi kata-kata mutiara.

Saat orang-orang kecil yang baik dan jujur itu bersatu untuk tujuan memperbesar lingkaran pengaruhnya, selalu ada saja hambatan dan tantangan untuk mewujudkannya. Intinya, tidak mudah dan perlu perjuangan.

Acara-acara televisi yang sesekali menghadirkan orang-orang kecil dan jujur yang penuh inspirasi sangat digemari, karena inilah kesempatan emas bagi orang-orang kecil itu untuk memperbesar lingkaran pengaruhnya, sekalipun tanpa bermodalkan uang. Namun tetap saja, acara-acara seperti itu jauh dan kalah heboh oleh sinetron-sinetron minim pesan dan hampa inspirasi, karena di-back up pemodal besar. Lagi-lagi, uang yang bicara dan berkuasa. []

*Alumnus SMAN 1 Kota Tasikmalaya, Dosen STIKes Kuningan

Komentari

komentar

Komentari

Komentari