Peristiwa

Umpatan Bodoh + Water Cannon = Ricuh

Kota Tasik | Aksi unjuk rasa di tengah pelantikan anggota DPRD Kota Tasikmalaya berujung ricuh, Rabu (3/9). Massa yang terdiri atas HMI, PMII, IMM, KAMMI, IPNU, dan lainnya itu lari tunggang-langgang setelah disemprot water cannon dan dikejar aparat.

Sebagian lari ke arah selatan dari pertigaan Jati (Ir. H. Juanda), sementara yang lain ke arah timur (RE. Marthadinata). Petugas mengamankan tiga orang peserta aksi, salah satunya orator yang mengeluarkan pernyataan “Polisi-polisi bodoh”. Aparat tampak tak terima dengan umpatan itu. Sebagian dari mereka memukul-pukul tameng dengan pentungan.

Tak berselang lama, massa membakar dua buah ban bekas. Semula, polisi hanya memadamkan api itu dengan alat pemadam tabung. Sejurus kemudian water cannon ditembakkan ke titik api. Massa buyar. Polisi mengejar. Mereka kocar-kacir menghindar.

Kericuhan itu merupakan yang kali kedua. Sebelumnya sempat terjadi aksi dorong-dorongan, disusul penembakan serbuk kimia yang memerihkan bola mata. Massa dan aparat terlibat saling pukul, namun itu tak berselang lama. Mereka kembali berkumpul di lokasi semula, membentuk lingkaran, lalu membakar ban.

“Tindakan-tindakan itu sangat sadis. Mereka dihajar begitu saja laksana maling. Padahal rekan-rekan mahasiswa hanya ingin menyampaikan aspirasi, tapi tidak boleh masuk, kemudian membakar ban. Bagaimanapun tindakan polisi tadi sangat tidak manusiawi,” ujar Parid, aktivis PMII Kota Tasikmalaya.

Dalam aksinya, massa yang tergabung dalam koalisi mahasiswa Tasikmalaya itu menuntut DPRD menjadi institusi yang mampu mengontrol, membuat penganggaran, serta mengawasi eksekutif dan menyejahterakan masyarakat. initasik.com|ashani

Komentari

komentar