Peristiwa

Untung Rugi TCF, BI Diingatkan Jangan Mentang-mentang


 

Kota Tasik | Gelaran Tasikmalaya Creative Festival (TCF) patut diapresiasi. Semangatnya dalam memajukan pelaku usaha kecil dan menengah harus didukung semua pihak. Namun, pelaksanaanya mesti dievaluasi.

Dari tahun ke tahun, acara yang digagas Bank Indonesia (BI) itu selalu menimbulkan kegaduhan. Dibanding dua tahun sebelumnya, 2014 dan 2015, reaksi masyarakat terhadap TCF 2016 ini semakin riuh. Banyak yang keberatan dengan digelarnya TCF 2016 di Jalan Hazet, Kota Tasikmalaya.

Jalan yang menjadi arus utama transportasi itu ditutup sebagian, sehingga menimbulkan kemacetan dan menyebabkan pelaku usaha yang berada di jalur itu mengalami kerugian dibanding hari biasanya. Omzet mereka menurun drastis.

Euis, istri ketua RT 04 RW 10, mengatakan, warga yang berada di jalur kanan yang masuk ke wilayah RTnya mengeluhkan acara tersebut. Mereka tidak diberi tahu jauh hari sebelum acara digelar. Diajak berunding pun tidak. Ujug-ujug menerima pemberitahuan. Itupun setelah akses jalan ditutup.

“Saya sampai tidak jualan. Warung nasi tutup. Percuma buka juga, tidak ada yang beli. Padahal hasil dari jualan itu lumayan buat menutupi keperluan sehari-hari,” ujarnya kepada initasik.com, Kamis, 6 Oktober 2016.  Ditanya apakah dapat kompensasi dari penyelenggara TCF, lantaran telah dirugikan, Euis geleng kepala.

Begitupun Dodi Yonatan, pedagang Mie Ayam HZ. Kendati pendapatannya menurun drastis, ia tidak diberi ganti rugi. “Kita mah tak punya daya. Menurut saja apa kata pemerintah. Maunya begitu ya kita ikuti. Tapi inginnya saya kalau mengadakan acara begini itu jangan sampai merugikan pedagang lain,” tuturnya.

Bukan hanya Euis dan Dodi yang keberatan. Banyak warga Kota Tasikmalaya yang mempertanyakan kenapa acara tersebut diadakan di pusat kota, sehingga menutup akses jalan. Padahal masih banyak tempat lain yang bisa dimanfaatkan, seperti Dadaha, Situ Gede, dan yang titik lainnya.

“Seharusnya yang mengadakan acara ini berpikir panjang. Pikirkan masyarakat lain yang sehari-hari mencari kehidupan di sini. Jangan mentang-mentang punya kuasa, harus semaunya. Jangan mentang-mentang punya uang, bisa memaksakan keinginan. Seharusnya pemerintah jangan mudah memberi izin. Jangan kalah oleh yang punya uang,” tutur Jaenudin, warga Cikalang, Tawang.

Sementara itu, Lilis Budhi, pemilik Zarini Busana Muslim, mengaku terbantu dengan adanya TCF. Ia bisa mempromosikan barangnya melalui pameran yang diikutinya secara gratis. “Tahun kemarin juga ikutan (TCF), dan dapat pesanan dari Cirebon. Alhamdulillah ada manfaatnya,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Mila Kamila, ketua Kelompok Kreasi Rasa, dan Tina R. Sardjono, pemilik Rumah Batik Ramayana. Bagi mereka, acara TCF memberikan pengaruh pada grafik penjualan. “Hari ini saja saya sudah menjual 15 baju,” aku Tina.

Kepala BI Tasikmalaya, Wahyu Purnama, mengatakan, dipilihnya Jalan Hazet karena tempatnya terbilang luas. Jalannya lebar, sehingga bisa memuat panggung besar. Ia menilai, Dadaha atau Situ Gede tidak layak untuk TCF.

Menurut dia, Tasikmalaya, kota atau kabupaten, memiliki potensi yang tinggi dalam produk kreatif dan seni budayanya. “Kita tidak ingin potensi itu hilang dan terlupakan. Oleh karena itu TCF merupakan wadah untuk menjaga kelestarian dan mengembangkan UMKM, serta mengembalikan kejayaan bordir dan produk lainnya,” paparnya dalam sambutan pembukaan TCF, tadi siang.

Ia menyebutkan, TCF tahun ini pesertanya lebih banyak dibanding TCF 2014 atau TCF 2015. Tahun ini ada 180 stan, terdiri atas 120 stan UMKM dan 60 stan kuliner. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?