Jay | initasik.com
Humaniora

Usianya Sudah 84 Tahun, Soma Memikul Bakul Hingga Puluhan Kilometer

initasik.com, humaniora | Di usianya yang sudah sepuh, Soma masih harus bekerja keras. Selasa, 25 April 2017, lelaki berusia 84 itu berjalan ringkih di Jl. KH Zainal Musthafa, Kota Tasikmalaya. Memikul bakul. Berjalan kaki hingga puluhan kilometer.

Kelihatannya, barang yang ia bawa tidak terlalu berat. Hanya bakul. Boboko. Tapi, seringkali ia memindahkan pikulannya itu, dari pundak kanan ke pundak kiri, dan sebaliknya. “Lumayan pegel,” ujarnya saat berbincang dengan initasik.com, di depan Masjid Al-Ikhlas, Padayungan.

Di halaman masjid itu, Soma istirahat. Melepas lelah setelah jauh berjalan kaki. Mengumpulkan lagi tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Tujuannya daerah Gegernoong, Tamansari.

Di sana ia punya warung langganan yang biasa memborong barang bawaannya. Namun, ia tidak tahu di warung itu bakulnya sudah habis atau belum. Jika ternyata masih ada, Soma terpaksa menginap semalam. Numpang tidur di warung. Esoknya melanjutkan perjalanan.

“Kalau tidak diborong oleh warung, saya keliling kampung cari pembeli di rumah-rumah. Dijual eceran,” ucapnya, seraya menyebutkan, kalau diborongkan ke warung, satu bakul ia jual Rp 10.000. Jika diecerkan, satunya Rp 15.000. Sekali berangkat, ia bawa 40 bakul. Dua kodi.

Selain dibuat sendiri, bakul-bakul itu didapatnya dari perajin. Usianya yang sudah sangat tua, menjadikan Soma tidak lagi produktif. Tenaganya terbatas. Sehari paling banyak bisa membuat dua bakul.

“Sebenarnya anak-anak saya melarang jualan seperti ini lagi. Mereka kasihan melihat saya. Tapi saya tidak bisa diam. Di rumah saja tidak ada kerjaan. Lagi pula saya harus makan. Walaupun sudah tua begini, uang mah tetep butuh,” tuturnya sambil tertawa. Giginya sudah ompong.

Warga Warung Doyong, Desa Sindangherang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, itu mengaku tinggal sendirian di rumahnya. Istrinya sudah meninggal dunia. Sedangkan keenam anaknya sudah berumah tangga. Sebagian rumah anaknya itu berdekatan dengan Soma. Ada juga yang merantau ke Cianjur. “Ngiriditkeun,” sebutnya.

Komentari

komentar