Peristiwa

Ustadz Yusuf Menyusup ke Jamaah Perempuan

Kota Tasik | Pesohor yang satu ini rupanya punya gaya dakwah yang berbeda. Lain dari yang lain. Di antara banyak ustaz, sepertinya hanya dia yang seperti itu. Naik mimbar lalu turun lagi. “Kasih saya jalan. Saya mau jalan-jalan. Tapi jangan ada yang noel-noel,” ujar Yusuf Mansur saat ceramah di Masjid Agung Kota Tasikmala, Minggu, 1 Maret 2015.

Hap! Ia turun dari panggung, lalu jalan di antara jamaah laki-laki sambil membaca potongan ayat Al-An’am ayat 160. Itu dibaca berulang-ulang sampai masuk ke jamaah perempuan. Ia berada di kerumunan kaum hawa. Semua mata tertuju pada ustadz yang lekat dengan bahasa Betawinya itu. Sebagian jamaah, termasuk perempuan, sibuk mengambil gambar dengan telepon seluler.

“Jangan pegang-pegang. Saya ini laki orang,” sergahnya entah pada siapa. Ia masih berdiri di antara jamaah ibu-ibu sambil membaca penggalan ayat yang punya arti; barang siapa memberi satu kebaikan maka ia akan diberi sepuluh kebaikan.

Tak banyak materi yang ia bawakan. Hampir selama satu jam, ia hanya membaca potongan surat Al-An’am ayat 160 tersebut. Ia menegaskan tentang keutamaan sedekah dengan diperkuat cerita-cerita wah. Misalnya kisah tentang seorang ibu yang marah-marah karena anaknya tak lagi mengirimkan uang bulanan setelah mengaji kepada ustadz Yusuf Mansur.

“Si Ibu itu marah karena sudah dua bulan anaknya tidak ngasih Rp 300 ribu. Dia marah sama saya, karena anaknya begitu setelah mengaji pada saya. Lalu saya tanya sama anaknya kenapa dia begitu. Dia jawab karena ingin memberi yang lebih banyak kepada ibunya dengan cara sedekah. Dua tahun setelah itu, keluarga si ibu itu berangkat umrah,” tutur ustadz.

Gaya ustadz Yusuf Mansur yang seperti itu disayangkan Asep, salah seorang jamaah. Ia mengaku kaget saat sang ustadz masuk ke jamaah ibu-ibu. “Itu maksudnya apa coba? Kan ustadz pakai mikorofon, ga usah masuk ke jamaah ibu-ibu segala, apalagi itu di dalam masjid,” sesalnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar