Sakola Kautamaan Istri Pasundan, Jajaway (Sekarang Jl. Dewi Sartika), 1924 | Dok. Soekapoera Institute
Historia

Volkschool Pasoendan; Sekolah Modern Pertama di Tasikmalaya Bagi Rakyat Kecil


initasik.com, historia | Di era penjajahan, kepedulian pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan masyarakat pribumi Tasikmalaya, terutama rakyat kecil, sangat memprihatinkan. Sekolah rakyat yang diselenggarakan di desa-desa berjalan alakadarnya. Sarana penunjang seadanya.

Sekolah-sekolah itu dibiayai swadaya oleh masyarakat desa. Keberlangsungannya hanya mengandalkan jasa perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian mulia para mantri guru di desa-desa. Sebagaian besar guru-guru itu menjadi tokoh pergerakan yang berhimpun dalam berbagai wadah.

Sampai 1920-an, pemerintah kolonial hanya mendirikan sedikit sekolah-sekolah selevel Sekolah Dasar (SD). Pendidikan yang diselenggarakan adalah Sekolah Pribumi Kelas Satu yang diperuntukkan bagi anak-anak kalangan Eropa dan menak pribumi. Pada 1914, sekolah itu berubah nama menjadi Holandsch-Inlandsch (HIS) Tasikmalaya.

Pemerintah kolonial juga mendirikan Netherlandsch Zending Vereneging (NZV) untuk kepentingan pengembangan pendidikan agama Kristen, 1923. Pada dekade ini juga, kolonial mendirikan Ambachtschool (sekolah pertukangan) untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di bidang pertukangan. Sekolah pertukangan ini terletak di samping Alun-alun Tasikmalaya.

Melihat kondisi tersebut, para pegiat perhimpunan pergerakan Tasikmalaya memberikan perhatian serius terhadap pendidikan rakyat rendahan. Salah satunya R. Ahmad Atmadja. Ketua pergerakan Paguyuban Pasundan (PP) Tasikmalaya era 20-an itu menjadi pelopor sekolah modern di Tasikmalaya.

Ia berhasil memelopori kemajuan pendidikan dan pengajaran di Tasikmalaya. Pada 1920, R. Ahmad Atmadja mendirikan Bale Pawulangan Pasundan (BPP). Sejak dibentuk, BPP memusatkan kegiatannya pada pendirian sekolah-sekolah dengan kualitas standar untuk rakyat rendahan; menyusun dan mengembangkan program pengajaran nilai-nilai tradisi dan budaya Sunda; dan mengusahakan beasiswa bagi golongan rakyat rendahan dengan mendirikan Commitee Studiefond Pasoendan.

Pendirian komite itu merupakan bentuk kepedulian terhadap pemerataan pendidikan bagi masyarakat Sunda pribumi. Komite aktif menghimpun dana pendidikan dari pengusaha yang ada di Tasikmalaya.

Dana yang disumbangkan selanjutnya digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak Sunda pribumi yang kurang mampu. Banyak sekali pedagang dan pengusaha yang peduli terhadap kemajuan pendidikan di Tasikmalaya. Melalui program beasiswa, mereka ikut menjadi mengorbankan hartanya.

Pada 1920, BPP mengawali perjuangannya dengan mendirikan sekolah dasar pribumi yang bernama Volkschool Pasoendan. Pada 1924, sekolah ini berubah menjadi Holland Inlandsche School (HIS) Pasundan Tasikmalaya.

Di waktu yang sama, BPP mendirikan sekolah dasar untuk pelajar perempuan bernama Sakola Kautamaan Istri Pasundan. Langkah P.P. Tasikmalaya ini menjadi perhatian serius cabang P.P. lainnya di Jawa Barat. Keberhasilan P.P. Cabang Tasikmalaya ini diiukuti di hampir seluruh kabupaten di tatar Pasundan.

Pada 1928, R. Ahmad Atmadja bersama BPP berhasil mendirikan sekolah menengah pertama di Tasikmalaya. Sekolah menengah pertama itu bernama Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasundan Tasikmalaya.

Berselang lima tahun, 1933, BPP mendirikan Kweekschool Pasoendan. Pendirian sekolah ini dilatarbelakangi oleh masih sangat terbatasnya tenaga pengajar (guru) di Tasikmalaya. Tiga tahun berikutnya, 1936, BPP mendirikan Handelschool yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan rakyat dalam bidang perdagangan.

BPP mendapatkan simpati dan dukungan dari banyak kalangan. Selain bupati R.A.A. Wiratanuningrat, tokoh-tokoh penting kabupaten lainnya ikut terlibat dan menyokong kegiatan PP di Tasikmalaya.

Bupati juga mendorong berdirinya pendidikan yang diselenggarakan swadaya oleh Muhammadiyah dan organisasi lainnya, baik sekolah formal maupun kursus-kursus. Sampai 1938, pendidikan di Tasikmalaya cukup bergairah.

Masyarakat Tasikmalaya sudah terbangunkan kesadarannya untuk menyekolahkan anaknya pada pendidikan formal. Berkembangnya pendidikan di Tasikmalaya pada masa itu, menjadikan daerah ini sebagai sentral pendidikan di Priangan Timur. Siswa yang belajar di

Tasikmalaya banyak yang berasal dari Garut, Ciamis, Sumedang, Cilacap, Kuningan, dan Purwokerto. Sekolah-sekolah di Tasikmalaya telah banyak melahirkan tokoh pergerakan lokal maupun nasional. (Sumber: Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya, Soekapoera Institute)

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?