Peristiwa

Wajah Ideal Perpustakaan Daerah

Kota Tasik | Perjalanan Kantor Arsip Perpustakaan Daerah Kota Tasikmalaya terbilang lama. Sudah sebelas tahun. Sejak 2004. Namun, sampai kini kondisinya tidak banyak berubah. Sejak era Wali Kota Bubun Bunyamin, kemudian Syarif Hidayat, dan kini Budi Budiman, belum ada perubahan berarti.

Minimnya koleksi buku dan sepinya pengunjung telah menjadi bagian cerita yang tak terpisahkan dari perjalanan perpustakaan yang berada di kompleks perkantoran, jalan Ir. H. Juanda, itu.

Dalam sehari, kata Pustakawan Perpusda Kota Tasikmalaya Hasriadi, rata-rata jumlah pengunjung kurang dari sepuluh orang. Koleksi bukunya pun masih di angka 30 ribu eksemplar.

“Kalau melihat perda provinsi, standar minimal perpusatakaan daerah itu 500 ribu judul, dan (punya koleksi) satu juta eksemplar. Itu standar minimal untuk repsentatifnya perpustakaan daerah,” ujar Hasriadi kepada initasik.com, beberapa waktu lalu.

Soal sepinya pengunjung, sambung Hasriadi, salah satunya disebabkan posisi kantor perpustakaan yang berada di sudut. Jangankan masyarakat umum, guru pun banyak yang tidak tahu di mana letak perpustakaan Kota Tasikmalaya.

Makanya ia sangat menyambut baik wacana pemindahan perpustakaan ke tempat yang kini digunakan Disbudparpora Kota Tasikmalaya. Posisinya di tengah kota, dan dilewati angkutan umum berbagai jurusan.

Menurutnya, pindah ke pusat kota merupakan solusi terbaik agar perpustakaan bisa menjalankan fungsinya. Salah satunya fungsi deposit. “Semua karya tulis, audio, atau audio-visual yang berkaitan dengan Tasikmalaya, siapapun penulisnya, di manapun ditulisnya, dan diterbitkan oleh pihak manapun, harus ada di perpustakaan,” jelas Hasriadi seraya menambahkan, lantaran terkendala tempat, koleksi karya tulis untuk memenuhi fungsi deposit terpaksa dipajang di belakang meja kerja Hasriadi. “Itu hanya contoh,” imbuhnya.

Ia menegaskan, banyak hal yang bisa dilakukan di perpustakaan jika tempatnya memadai. “Perpustakaan itu harus mampu membentuk keterampilan berbahasa, yaitu membaca, mendengar, menulis, dan berbicara. Program-program itu harus ada di perpustakaan. Kami punya mimpi setiap minggu ada kelas menulis di perpustakaan. Ada pelatihan jurnalistik. Ada kegiatan lainnya yang mendorong keterampilan berbahasa,” tuturnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar