Mesin jahit di rumah Abdul Ajid | Jay/initasik.com
Sosial Politik

Warga di Kecamatan Bojonggambir Empat Hari Dibekap Gelap


initasik.com, sosial | Abdul Ajid, warga Kampung Sukabakti, Desa Girimukti, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, hanya berdiam diri di rumah atau hilir-mudik tak jelas tujuan. Kadang kumpul di depan warungnya dengan anggota keluarga yang lain.

Tidak ada pekerjaan yang bisa digarap. Aktivitas hariannya terganggu lantaran aliran listrik padam. Mesin-mesin jahit tidak bisa dijalankan. Sejak Kamis malam, 30 November 2017, sampai Ahad siang, 3 Desember 2017, listrik masih mati.

Ia mengaku tak tahu pasti kenapa aliran listrik di kampungnya padam. “Katanya ada jaringan listrik yang tertimpa pohon. Hari Kamis kemarin itu memang angin bertiup kencang,” ujarnya kepada initasik.com, Ahad, 3 Desember 2017.

Akibatnya, mesin-mesin jahit di rumahnya tidak bisa difungsikan seperti biasa. Padahal, ia mempunyai sebelas mesin jahit. Empat di antaranya disimpan di rumah. Selebihnya digunakan pegawai di rumahnya masing-masing.

Dalam sehari, satu mesin rata-rata menjahit 30 baju koko, malah ada yang lebih. Satu baju, jasa jahitnya kisaran Rp 5.000. Jika dikalikan sebelas mesin dan rata-rata 30 baju, maka ia mengalami kerugian Rp 1.650.000. Itu dalam satu hari.

Menurutnya, dari sekitar 120 kepala keluarga di Kampung Sukabakti, mayoritas bermatapencaharian buruh jahit. Praktis, selama listrik padam, mereka tidak bisa bekerja. Penghasilan nihil.

Bukan hanya buruh jahit, tukang pangkas rambut juga sama. Jenal Mustopa, warga Cireundeu, Desa Ciroyom, Kecamatan Bojonggambir, juga mengalami hal yang sama. Selama dua hari, dari Jumat sampai Sabtu, ia tidak bisa bekerja.

“Kalau di kampung ini sejak tadi malam (Sabtu malam) sudah nyala lagi. Sekarang saya bisa buka. Selama dua hari kemarin tutup. Tentu saja jadi tidak punya penghasilan. Kalau dirata-ratakan, sehari biasanya mencukur sepuluh kepala,” tuturnya.

Lantaran tidak ada aliran listrik, pemenuhan kebutuhan sehari-hari juga terganggu. Semua barang elektronik tidak bisa digunakan. Untuk keperluan air, Jenal mengaku minta dari tetangga yang punya sumur terbuka.

Tokoh pemuda Kampung Cioray, Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Wawan Nursalam, menyebutkan, padamnya aliran listrik itu sangat menggangu masyarakat, apalagi yang usahanya mengandalkan listrik.

“Kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya. Kalau PLN Garut memang suka begini. Saat ada hujan besar, aliran listrik dimatikan. Sebagai perusahaan besar, seharusnya PLN lebih sigap, sehingga tidak merugikan masyarakat,” paparnya.

Dia menceritakan, saat masyarakat membereskan puing-puing pohon yang roboh diterjang angin kencang, ada pegawai PLN yang melintas. Diminta berhenti, mereka malah jalan terus. Seakan tak peduli.

Ia menyebutkan, sebagian besar wilayah Bojonggambir, pasokan listriknya dikirim dari PLN Area Garut. “Dengan seringnya kejadian seperti ini, tentu masyarakat terganggu. Aktivitas sehari-hari tersendat. Target pekerjaan tidak tercapai, khususnya yang bekerja menggunakan sumber daya listrik,” paparnya. [Jay/Milah]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?