Informasi

Yanti Nur Aprianti Berbagi Pengalaman di Eropa Tampilkan Kesenian Sunda

initasik.com, informasi | Bagi Yanti Nur Aprianti, terlibat dalam unjuk kebolehan kesenian Sunda di luar negeri, khususnya Eropa, bukan hal baru. Sebelum ikut dalam Internationales Gamelan Musikfestival Muenchen, 5 Juni s.d. 17 Juni 2018, Yanti pernah mengikuti kolaborasi antara Ensemble Kyai Fatahillah (EKF), pimpinan Iwan Gunawan bersama penari dari Belanda, Leine Roebana Dance Company tahun 2012, 2013, dan tahun 2015.

Banyak kesan yang didapat dengan mengikuti festival gamelan di kota yang terletak di selatan Jerman tersebut. “Suatu kebanggaan bagi saya bisa bertemu banyak orang yang konsentrasi pada alat musik milik Indonesia ini. Ketika kita di Negara sendiri malah asik dengan mengulik kesenian dan budaya luar, justru orang lain sudah paham betul bagaimana alat musik dan kebudayaan milik Indonesia. Miris, tapi bangga,” kata perempuan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia ini.

Kiprah Yanti di kancah internasional tidak lepas dari peran Ensemble Kyai Fatahillah (EKF) UPI Bandung. EKF diundang oleh Munchner Stadtmuseum yang diwakili Andras Varsanyi untuk mengikuti Internationales Gamelan Musikfestival Munchen 2018 dengan nama acara Indonesia Bronze Bamboo Beats.

Yanti menerangkan, Internationales Gamelan Musikfetsival baru diadakan pertama kali di Muenchen. Sebelumnya di Belanda sudah beberapa kali, salah satunya International Gamelan Festival Amsterdam. “Kami pernah terlibat menjadi pengisi acaranya,” katanya.

Festival Gamelan di Muenchen adalah gagasan dari salah seorang kolektor alat musik di Munchner Stadtmuseum, Andras Varsanyi yang akhirnya berinisiatif mendatangkan beberapa grup musik yang khusus berkonsentrasi pada gamelan baik itu gamelan bali, jawa, degung dari seluruh dunia.

Grup musik yang diundang diantaranya adalah Ensemble Kyai Fatahillah (West Java- Indonesia), Gamelan Salukat (Bali-Indonesia), Southbank Gamelan Players (London-Inggirs), Lightbulb (San Fransisco), Evergreen Club Contemporary Gamelan (Toronto-Kanada), Jegog Art Project (Muhldorf), Gong Tirta (Amsterdam), Swarasanti (Amstelveen), Gong Lila Cita (London), Puspawarna (Paris), Suara Nakal (Leipzig), Yogistragong (Lissabon-Portugal), Gamelan Bremen (Bremen), Beleganjur Balagita (Graz), Panempahan Guntur (Barcelona), Puspa Gita Pertiwi (Berlin KBRI), Cara Bali (Munchen) dan Balawan, dan Bantuan Ethnic Percussion (Bali-Indonesia).

Dari semua grup yang tampil, kebanyakan memainkan gamelan Bali. “Bali memang luar biasa, benar-benar mencuri perhatian dunia. Saya sempat iri pada Bali, dan mikir kenapa bule nggak tertarik sama kesenian Sunda ya?” imbuh Yanti.

Di acara opening, datang grup Evergreen Club Temporary Gamelan dari Toronto, Kanada. Mereka membawa alat musik sendiri. Yangti mengaku dibuat kagum oleh penampilan grup yang membawakan gamelan degung tersebut.

Besoknya datang satu grup dari Lissabon, Yogistragong, yang memainkan gamelan jawa. “Setelah itu, hampir setiap jam saya disuguhi gamelan bali yang cukup mendominasi di acara festival,” ujarnya.

Selain perform, ada juga acara workshop dan EKF kembali dipercaya oleh salah satu koreografer asal Belanda, Aafke de Jong untuk berkolaborasi untuk mengiringi koreo yang ia ciptakan dengan musik komposisi karya Iwan Gunawan dengan judul Gong.

“Kami pun bertemu di Muenchen dan melakukan proses kurang lebih 5 hari untuk latihan. Karya tari dan musiknya langsung ditampilkan di acara ini. Selain memainkan gamelan, saya juga nyinden. Dari semua grup gamelan, hanya EKF yang bawa sinden. Mau tidak mau, semua mata tertuju padaku,” ungkap Yanti, tersipu sekaligus bangga.

EKF juga memainkan musik berkolaborasi dengan Carillon di sebuah gereja di Marienhilplatz, Muenchen. “Kami bermain gamelan di halaman Marienhilplatz dan Carillon di atas gereja. Pengalaman pertama kami berkolaborasi dengan pemain Carillon, amazing,” ujar Yanti.

Tidak hanya itu, Yanti dan EKF juga diberi kesempatan berkolaborasi dengan ECCG dari Toronto untuk karya gamelan degung. “Malu ketika mereka lebih tahu karya-karya gamelan degung beserta notasi dan penciptanya dibandingkan saya,” katanya.

Kolaborasi tersebut ditampilkan di acara puncak dengan membawakan beberapa repertoar degung, di antaranya Marojengja, Anjeun, dan Kalangkang. “Waas pisan kalau kata orang Sunda mah. Bule nabeuh gamelan degung, dimana di Tasik mah gamelan degung teh hanya sebagai pengiring weddingan. Di sana, karya kami begitu sangat dihargai dan dipuji,” pungkasnya. [KL]