Humaniora

Yanto Heryanto dan Usahanya Menafkahi Keluarga dengan Mata Buta


initasik.com, humaniora | Sekilas tidak ada yang berbeda dengan pria paruh baya ini. Fisiknya sama seperti yang lain. Namun, jika diamati ternyata dia tunanetra. Kedua bola matanya buta. Akibat kecelakaan lalu lintas, puluhan tahun silam.

Dialah Yanto Heryanto. Usianya kini menginjak 50 tahun. Kendati sama sekali tidak bisa melihat, ia masih berjuang menafkahi keluarganya. Bertanggung jawab kepada istri. Bekerja semampu tenaga.

Yanto bercerita, saat berusia 20 tahun dirinya mengalami nasib nahas. Dalam satu perjalanan, motor yang dikendarainya celaka. Pecahan kaca menembus kedua matanya. Dokter menyatakan, ia tidak dapat lagi melihat.

Kini, warga Kampung Gunungputat, Desa Cikadongdong, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, itu setiap hari bekerja sebagai buruh ternak domba. Ditemani oleh sang istri Nenah, sebagai penuntun jalan, Yanto mencari nafkah dengan mencari rumput sebagai pakan domba. “Kieu we sadidinten mah, ngored kangge domba,” ujarnya.

Menurutnya, domba-domba itu milik seseorang yang memercayakan padanya. Ada sekitar sepuluh ekor. Lantaran hasil usaha buruh ternak domba tidak bisa dinikmati setiap hari, ia biasa diberi ayahnya, Mumu Rusmana yang bekerja sebagai tukang ojek, kadang dapat pemberian dari tetangga.

Dari pernikahannya dengan Nenah, mereka dikarunia dua anak. Anak pertamanya sekolah sampai SMP, sedangkan yang kedua duduk di kelas 6 D. Keduanya dititipkan di rumah Mumu. “Da gening tong boro kangge murangkalih, kangge tuang sadidinten ge masih teu acan cekap,” ucap Yanto.

Saat ditanya perhatian dari pemerintah, ia geleng-geleng kepala. Tak ada sedikitpun, termasuk jaminan kesehatan. “Ti payun kantos ngajengkeun ka pa bupati, ngan saukur muhun nanti muhun nanti,” imbuhnya. [Dan]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?